Terungkap : Asal Usul Batu Kuda Selimuti Sejarah Kelam

- 10 Agustus 2020, 14:05 WIB
Batu kuda Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung /

Jurnal Trip - Masuknya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal, beberapa destinasi Parawisata di Kota Bandung telah diperbolehkan untuk beroprasi seperti biasa dan dibuka bagi para wisatawan. Salah satunya Wisata alam Batu Kuda.

Adapun lokasi dan geografisnya, wisata Batu Kuda Manglayang terletak di Gunung Manglayang, Cibiru Wetan, Cileunyi, di perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung dengan jarak tempuh kurang dari 1 KM dari pintu masuk, dengan harga tiket masuk sebesar Rp 7.000,- perorang.

Baca Juga: Curug Layung Obyek Wisata Murah dengan Ragam Panorama

Selain menyimpan pesona alam yang indah, wisata Batu Kuda memiliki jejak sejarah yang perlu untuk diketahui. Menurut penuturan Kuncen setempat (08/10), salah satu warga asli di sekitar menceritakan, bahwa historis dari wisata Batu Kuda merupakan sosok seekor kuda yang dapat terbang yang di tunggangi oleh salah satu pangeran kerajaan Jawa Barat yang bernama Prabu Layang Kusuma.

Pada masa kala itu Prabu Layang Kusuma sedang melakukan perjalanan dari Cirebon menuju Banten. Namun, ketika hendak melintasi gunung Manglayang, kuda terbang tersebut terjatuh, hingga terperosok ke dalam lumpur, sedangka Prabu Layang Kusuma tersungkur tak sadarkan diri di tepian di lereng gunung Manglayang.

Baca Juga: Ingin Belajar Sambil Selfie Bareng Satwa? Lembang Zoo Tempatnya!

Ketika Prabu Layang Kusuma tersadar, ia pun melihat sekeliling yang mana saat itu dipenuhi oleh hutan pinus. Setelah itu Prabu Layang Kusuma pun mencari kudanya tak jauh dari tempatnya, saat Prabu Layang Kusuma menemukan kuda yang tadi ditumpanginya, Prabu Layang Kusuma hanya bisa melihat separuh badan diatas lumpur, kemudian kuda tersebut lambat laun membatu.

Akibatnya, Prabu Layang Kusuma pun tidak melanjutkan perjalanannya dan langsung bertapa di dekat kudanya tersebut. Hingga saat ini masyarakat sekitar masih mempercayai bahwa batu besar tersebut merupakan jelmaan dari kuda terbang, dan pada setiap hari Senin dan Kamis, Kuncen selalu memberikan sesajen yang diletakan di sekiran batu kuda sebagai bentuk penghormatan. ***

Editor: Gery Cipta Sebangun


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X